Rabu, 01 Juni 2011

Sejarah Turunnya Al-Quran


 Sejarah Turunnya Al-Quran
Oleh : Zainur Rahman
A.      Pengertian al-Qur’an
Secara etimologi kata al-Qur’an itu berasal dari fi’il madli qara’a (membaca). Menurut Az-Zujaj,  menjelaskan bahwa Qur’an merupakan kata sifat, diambil dari kata dasar al-qar’ yang artinya menghimpun. Dan Al-Asy’ari mengatakan bahwa kata  al-Qur’an itu tidak memakai hamzah yang berasal dari kata kerja qarana (menyertakan) karena alqur’an menyertakan surat, ayat, dan huruf-huruf. Pendapat Al-farra’ mengatakan bahwa al-Qur’an berasal dari kata qara’in (penguat) karena al-Qur’an terdiri atas ayat-ayat yang saling menguatkan[1].
Secara terminologi, menurut pakar ushul fiqih al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang diturunkan kepada nabi-Nya, Muhammad SAW, lafadz-lafadznya mengandung mukjizat, membacanya mempunyai nilai ibadah, diturunkan secara mutawatir, dan ditulis pada mushaf, mulai dari surat al-Fatihah sampai akhir surat an-Naas[2]
   
B.       Proses Penurunan al-Qur’an
Al-Qur’an diturunkan diturunkan dalam waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari, yaitu dari malam 17 Ramadlan tahun 41 dari kelahiran Nabi sampai 9 Dzulhijjah haji Wada’ tahun 63 dari kelahiran nabi atau tahun 10 H[3]
Proses turunnya al-Qur’an kepada nabi Muhammad Saw. ini melalui tiga tahapan[4], yaitu:
  1. Al-Qu’an turun secara sekaligus dari Allah ke Lauh al-Mahfudz (tempat yang merupakan catatan tentang segala ketentuan dan kepastian Allah.
  2. Al-Qur’an diturunkan dari Lauh al-Mahfudz ke Bait Al-Izzah (tempat yang berada dilangit dunia).
  3. Al-Qur’an diturunkan dari Bait Al-Izzah ke dalam hati nabi melalui malaikat jibril dengan cara berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan. Adakalanya satu ayat, dua ayat, bahkan kadang-kadang satu surat.
C.      Awal mula penurunan al-Qur’an
c. 1. Sejarah kehidupan Muhammad
Ketika Muhammad lahir di Mekkah sekitar 570, bapaknya telah meninggal dunia, dan kemudian menyusul ibunya ketika ia baru berumur enam tahun. Lalu dipelihara oleh kakeknya , Abdul al-Muthallib, dam setelah kakeknya meninggal dia diasuh pamannya (Abu thalib).  Kemeralatannya dapat dilacak dari hukum adat Arab bahwa anak keturunan yang belum dewasa tidak dapat menerima warisan[5].
Dalam keadaan seperti itu Muhammad Ikut berdagang dengan pamannya. Lama kelamaan beliau berdagang sendiri tanpa bantuan pamannya. Suatu ketika muhammad diutus oleh seorang wanita kaya, bernama Khadijah, untuk mengurus barang dagangannya pada perjalanan niaga semacam itu, ia demikian sukses sehingga Khadijah mengawininya.
Tahap lanjut karir Muhammad dimulai ketika ia berumur sekitar empat puluh tahun. Tahun-tahun kemiskinannya telah menyadarkan akan krisis spiritual yang melanda mekah sebagai akibat kemakmuran materi. Dikabarkan bahwa beliau telah terbiasa bermeditasi mengenai masalah-masalah tersebut. Sekitar tahun 610, ditengah keasyikan meditasinya itu, beliau memperoleh pengalaman aneh dan sampai pada kesimpulan bahwa ia menerima pesan dari Allah untuk disampaikan kepada orang-orang Mekkah[6].


c. 2. Wahyu yang pertama kali turun kepada Muhammad
Ketika ditengah keasyikan meditasinya …..(berkhilwat) di Gua Hira pada malam Isnin, bertepatan dengan tanggal 17 ramadlan, tahun 41 dari kelahiran nabi Muhammad SAW. = 6 agustus 610 M [7]. Beliau memperoleh pengalaman aneh yaitu menerima wahyu dari Allah SWT.
Sesuai dengan kemuliaan dan kebesaran al-Qur’an, allah menjadikan malam permulaan turun al-Qur’an itu malam al-Qadar, yaitu malam yang tinggi kadarnya[8].
Ayat yang mula-mula diturunkan kala nabi dalam Gua Hira itu ialah S.Q: 96. Al-Alaq, 1-5.[9]  Pada wahyu inilah Muhammad diangkat menjadi nabi. Sesudah itu allah menurunkan surat al-Mudatstsir, 1-10.
Jelasnya, sesudah nabi menerima tugas yang terang untuk menyampaikan undang-undang Islam kepada para manusia.[10] Dengan artian diangkatnya nabi sebagai Rasul (utusan).
Wahyu itupun berhenti, tidak turun pula turun lagi. Menurut pendapat Ibn Ishaq, tiga tahun lamanya waahyu tidak diturunkan. Dalam pada itu ada yang mengatakan selama ada dua tahun setengah. Ada yang mengatakan selama empat puluh hari. Ada yang mengatakan lima belas hari, sebagaimana ada yang mengatakan selama tiga hari saja. Setelah nabi merasa sangat kecewa karena tidak turun wahyu yang telah sangat dirindukannya, turunlah surat adl-Dluha.
Sesudah itu barulah terus beriring-iring al-Qur’an diturunkan menurut kejadian-kejadian yang memerlukannya dan tidak pernah lagi putus.[11]   
Setelah penerimaan wahyu, Muhammad tidak mendakwahkannya di muka umum, tetapi menyampaikan pesan-pesan ketuhanan itu secara pribadi kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya, yang bersimpati kepada pandangan dan sikap yang tertuang didalam pesan ilahi yang terletak pada seruan untuk menyembah tuhan sebagi ungkapan rasa syukur atas nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada orang-orang Mekkah dan setiap individu.[12]
Tahap selanjutnya, Nabi Muhammad tidak ragu-ragu lagi menyampaikan pesan-pesan Allah SWT secara terbuka artinya penyampaiannya disampaikan kepada khalayak umum.
Ayat-ayat al-Qur’an itu penurunannya sesuai dengan kejadian-kejadian yang dialami oleh nabi Muhammad dan Umatnya. Hal ini bertujuan supaya al-Qur’an gampang dipahami dan mudah untuk dihafalkan oleh Nabi Muhammad SAW dan umatnya.

c. 3. Wahyu yang terakhir turun  kepada Muhammad
Kebanyakan ulama menetapkan bahwa hari terakhir turunnya al-Qur’an, ialah hari jum’at 9 Dzulhijjah tahun 10 Hijriyah, atau tahun ke 63 dari kelahiran Nabi (Maret 632 M).
Adapun  ayat yang terakhir turun menurut jumhur ialah Surat al-Maidah, 3 yang berbunyi:

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagimu agamamu dan Aku telah cukupkan untukmu nikmat-Ku dan Aku telah pilih (Aku ridhai) Islam menjadi agamamu”.


D.  Pengumpulan al-Qur’an (Jam’ al-Qur’an)
d. 1. Proses penghafalan al-Qur’an
Kedatangan wahyu merupakan sesuatu yang dirindukan nabi. Oleh karena itu, ketika datang wahyu, Nabi langsung menghapal dan memahaminya. Dengan demikian, nabi adalah orang pertama yang menghapal al-Qur’an. 

d. 2. Penulisan al-Qur’an
       a. penulisan al-Qur’an pada masa nabi Muhammad SAW
Pada masa Nabi SAW masih hidup penulisan al-Qur’an ditulis pada kepingan-kepingan tulang, pelepah-pelepah kurma dan pada batu-batu. Hal demikian dilakukan karena pada masa itu masih tidak ada kertas. Maka walaupun al-Qur’an sudah dan ditulis pada benda-benda tersebut, tapi suatu hal yang nyata, al-Qur’an tidak terkumpul dalam suatu mushaf. [13]

b. penulisan al-Qur’an pada masa sahabat Abu Bakar ibn Shiddiq[14]
Setelah Rasulullah SAW  wafat dan Abu Bakar menjadi khalifah, terjadilah perang yang diberi nama perang Yamamah (Musailamah Al- Kadzazab mengaku dirinya nabi). Dalam perperangan ini para sahabat banyak yang gugur syahid. Diantara sahabat yang gugur itu, Zaid Ibnul Khaththab, saudara Umar selain dari itu syahid pula 700 penghapal al-Qur’an.
Melihat banyak sahabat penghafal al-Qur’an yang gugur, timbullah hasrat Umar Ibnul Khaththab untuk meminta kepada Abu Bakar agar al-Qur’an itu dikumpulkan. Beliau khawatir al-qur’an akan berangsur-angsur hilang. Kalau hanya dihafal saja, karena para penghafalnya kian berkurang.
Sebagaimana diriwayatkan dalam suatu hadist bahwa yang ditugaskan menulis al-Qur’an itu adalah sahabat Zaid ibn Tsabit. Awalnya Zaid menolak, karena pekerjaan itu tidak ada pada zaman Rasulullah. Sehingga Abu Bakar berkata: Demi Allah ini suatu perbuatan yang sangat baik. Maka sesudah berulang kali Abu Bakar Menyuruh Zaid mengerjakan, baharulah hati Zaid dilapangkan Allah sebagaimana telah dilapangkan hati Abu Bakar dan Umar.
Kemudian Zaid mengumpulkan dan memeriksa al-Qur’an yang di tulis pada kepingan-kepingan tulang, pelepah-pelepah kurma, batu-batu dan mendatangi orang-orang yang hafal al-Qur’an. Pekerjaan ini dilakukan dengan sangat hati-hati.
Zaid ibn Tsabit dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh beberapa anggota lain, semuanya penghafal al-Qur’an, yaitu Ubay ibn Ka’ab, Ali ibn Abi Thalib dan Usman bin Affan. Mereka berulang kali mengadakan pertemuan dan mereka mengumpulkan tulisan-tulisan yang mereka tuliskan di masa Nabi.
Maka dengan usaha badan ini terkumpullah al-Qur’an di dalam shuhuf dari embaran-lembaran kertas. Dalam pada itu ada juga riwayat yang menerangkan, bahwa badan tersebut menulis al-Qur’an dalam shuhuf-shuhuf yang terdiri dari kulit dan pelepah kurma. Inilah pengumpulan pertama.

c. al-Qur’an pada masa sahabat Umar ibn Khaththab r.a.[15]
Setelah Abu Bakar wafat, shuhuf-shuhuf (shahifah) itu dipegang oleh Umar. Menurut suatu riwayat umar menyuruh menyalin al-Qur’an dari  shuhuf-shuhuf itu pada suatu shahifah (lembaran)[16]
Sesudah umar wafat shuhuf (shahifah) itu disimpan oleh anak beliau Hafshah (istri Nabi)


d. al-Qur’an pada masa sahabat Utsman ibn Affan[17]
Setelah beberapa tahun berlalu dari pemerintahan utsman timbullah usaha dari para sahabat untuk meninjau kembali shuhuf-shuhuf yang ditulis oleh zaid karena banyak perbedaan Qira’at dikalangan umat.
Diriwayatkan oleh Bukhari dari anas , bahwa Hudzaifah ibnul yaman datang kepada usman karena melihat hebatnya perselisihan dalam soal qira’at. Hudzaofah meminta kepada utsman supaya lekas memperbaiki keadaan itu, lekas menghilangkan perselisihan bacaan agar ummat jangan berselisih mengenai kitab mereka, seperti keadaan orang-orang Yahudi dan Nasrani. 
Maka utsman meminta kepada Hafsah supaya memberikan shuhuf-shuhuf yang ada padanya untuk disalin ke dalam beberapa mushaf. Sesudah shuhuf-shuhuf diterima beliau pun menyuruh Zaid bin Tsabit, abdullah bin Zubair, Zaid bin Ash, Abdurrahman bin Harits bin Hisyam mEnyalin dari shuhuf-shuhuf itu beberapa mushaf. Pedoman yang diberikan kepada badan tersebut, apabila terjadi perselisihan qiraat antar Zaid bin Tsabit, beliau ini bukan orang Quraisy – hendaklah ditulis menurut qiraat orang-orang Quraisy, karena al-Qur’an diturunkan dengan lisan Quraish. Setelah selesai mereka laksanakan pekerjaan tersebut, shuhuf-shuhuf itu di kembalikan kepada hafshah dan utsman pun mengirim ketiap-tiap kota besar satu Mushhaf, serta memerintahkan supaya dibakar segala shahifah-shahifah atau mushaf-mushaf yang lain dari yang ditulis oleh badan yang terdiri dari empat orang ini. Sehingga al-Qur’an diberi nama Mushhaf Ustmani (seperti al-Qur’an yang kita kenal sampai sekarang).



[1] Rosihon anwar, Ulumul Qur’an (Bandung: Pustaka Setia, 2004), 29-30
[2] Ibid, 33
[3] Hudhari bik, tarikh at-Tasyri’ Al-Islami, terj. Mohammad  Zuhri,  (rajamuh alqanaah , 1980), 5-6
[4]Rosihon anwar, Ulumul Qur’an, 33-35
[5] W. Montgomery watt,  Pengatar Studi al-Qur’an terj. Taufik Adnan Amat (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1995), 14
[6] Ibid, 15
[7]Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah & Pengantar Ilu al-Qur’an dan Tafsir (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 1988), 24
[8] Ibid, 24
[9] Ibid, 30
[10]Ibid, 31
[11] Ibid, 31
[12] W. Montgomery watt,  Pengatar Studi al-Qur’an, 15
[13] Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah & Pengantar Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, 80-81
[14] Ibid, 80-81
[15] Ibid, 83
[16] Riwayat ini di bantah oleh sebagian ahli ilmu
[17] Ibid, 84-85

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More